No
Line Boxes
Ada 2 buah kotak di sudut
ruangan. Kotak yang pertama tidak berisi, sedangkan kotak yang kedua berisi
sekor anak ayam kecil. Seorang anak kecil duduk memandangi kedua kotak tersebut. Lalu dikatakannya kepada kotak yang
kedua, “Anak ayam, mengapa kamu tidak keluar saja dari kotak ini? Kulihat kamu
sedih…” Lalu dikatakannya pula kepada kotak yang pertama, “Kotak kosong,
mengapa kamu tidak mencari sesuatu untuk kamu masukkan ke dalam kotakmu?
Rasanya tidak enak melihatmu kosong…”…Kamu pasti merasa kesepian, sama seperti
anak ayam kecil itu. Setelah di dalam, ia ingin keluar mencari teman…
Memang tidak enak menjadi sebuah
kotak, maupun isi yang ada di dalam kotak. Yang paling enak, yang paling nyaman
adalah berada di luar kotak. Rasanya
lelah bila hidup kita selalu dikotak-kotakkan. Ibarat sebuah kertas lipat, yang
walaupun berwarna-warni, dan terlihat ceria, namun hanya bisa menunggu tangan
seseorang yang akan membentuknya sesuai keinginan si pembentuk.
Rasanya tersiksa, memikirkan kapan
kotak ini dapat terlepas dari hidupku?! Ingin kupecah, tapi tak sanggup. Ingin
kubuka penutupnya, tapi tak mampu. Bagaimana sebenarnya cara membukanya masih
belum kutahu. Apakah karena keberanianku belum muncul ? Ah, rasanya Tidak
begitu. Ada kok keberanian, hanya apinya saja belum menyala. Tapi lagi-lagi,
pemantik apinya hilang.
Aku bingung…ternyata, untuk membuka
kotak-kotak itu bukan hanya butuh keberanian, tetapi juga butuh harapan dan
tekad yang kuat. Harapan, sebuah pencerah kehidupan, akan memunculkan tekad
itu. Tetapi terkadang, saat tekad itu sudah muncul, hatiku menciut kembali
layaknya anak ayam itu. Ternyata, lagi-lagi, butuh juga keyakinan. “Aku mampu
kok untuk membukanya”, meskipun untuk itu, aku harus berlatih
seharian…sebulan…setahun., atau bahkan selamanya..sampai aku bisa berteriak…AKU
BEBAS…..
**Anonimous**